Sabtu, 03 Desember 2011

Masuknya Islam Ke Tanah Jawa

Situasi masyarakat indonesia khususnya di pulau Jawa sebelum kedatangan Islam, kehidupannya dipengaruhi oleh Sistem Kasta atau peradabaan golongan kelas, sehingga kehidupan masyarakat terpecah-pecah.
Dan karena mereka yang tergolong kasta tinggi tidak diperkenankan bergaul dengan orang yang berkasta rendah. Sebagaimana mereka membagi kasta menjadi empat :
1.    Kasta Brahmana
2.    Kasta Ksatria
3.    Kasta Waisya
4.    Kasta Sudra
Diantara keempat kasta itu yang paling rendah tingkatannya adalah Kasta Sudra. Kasta inilah yang sering ditindas oleh kasta-kasta yang lebih tinggi, sehingga hidupnya selalu resah. Setelah agama Islam masuk dan tersebar di masyarakat, baru dari sedikit kesedikit terkikislah perbedaan kasta-kasta itu dan mulailah terjaminnya hak asasi manusia tanpa ada perbedaan.
Menurut catatan ahli sejarah, Agama Islam masuk ke Pulau Jawa sekitar abad XI Masehi yang dibawa oleh para pedagang dari Arab dan disebarkan Muballigh dari Pasai (Aceh Utara).
Tetapi sebagian lagi dari ahli sejarah mengatakan, bahwa agama Islam masuk ke Indonesia yang pertama adalah di Pulau Jawa. Karena pada tahun 929 - 949 M, masa kekuasaan Prabu Sindok, para saudagar dari Pulau Jawa sudah banyak yang berlayar sampai ke Baghdad. Demikian juga para pedagang dari Persia dan Gujarat sudah ada yang datang ke Indonesia.
Dikatakan lebih dahuludi pulau Jawa, karena ditemukan satu bukti pada batu nisan seorang wanita Islam yang bernama Fatimah Binti Maimun, yang dimakamkan di Desa Leran Gresik, tertulis wafatnya tahun 475 H atau tahun 1082 Masehi.[1]
Hingga pertengahan abad ke 13 bukti-bukti kepurbakalaan maupun berita-berita asing tentang masuknya islam di jawa sangatlah sedikit. Baru sejak akhir abad ke 13 masehi hingga abad-abad berikutnya, terutama sejak majapahit mencapai puncak kejayaannya, bukti-bukti proses pengembangan islam di temukan lebih banyak lagi. Misalnya saja penemuan kuburan islam di troloyo, trowulan dan gersik, juga berupa ma huan (1416 masehi) yang menceritakan tentang adanya orang-orang islam yang bertempat tinggal di gersik. Hal ini membuktikan bahwa pada masa itu telah terjadi proses penyebaran agama islam, mulai dari daerah pesisir dan kota-kota pelabuhan sampai ke pedalaman sampai ke pusat kerajaan majapahit. Adanya proses penyebaran agama islam di kerajaan maja pahit terbukti dengan di temukannya nisan-nisan makam muslim di trowulan yang terletak berdekatan dengan kompleks makam para bangsawan maja pahit
Adapun yang didatangi pertama oleh Islam di Pulau Jawa yaitu di daerah-daerah pesisir utara Jawa Timur. Agama yang nampak perkembangannya di pulau Jawa Itu, sejak datangnya Maulana Malik Ibrahim di Gresik yang kemudian menjadi pusat penyebaran Islam di Jawa Timur.
Pertumbuhan masyarakat muslim di sekitar majapahit sangat erat kaitannya dengan perkembangan hubungan pelayaran dan perdagangan yang dilakukan orang-orang islam yang telaah memiliki kekuatan politik dan ekonomi di kerajaan samudra pasai dan malaka. Untuk masa-masa selanjutnya pengembangan islam ditanah jawa di lakukan oleh para ulama’ dan mubaligh yang kemudian terkenal dengan sebutan walisanga(sembilan wali).[2]
Nama  Walisanga begitu dekat dengan umat Islam, khususnya di Jawa. Ia menjelma dalam hikayat di alam pikiran orang kebanyakan. Berbagai karya dalam bentuk tulisan, gambar, bahkan film berusaha menghidupkannya kembali. Tak ayal lagi, anak sekolah dasar pun begitu hapal sembilan tokoh dan kisah Walisanga. Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim (1), Sunan Ampel (2), Sunan Giri (3), Sunan Bonang (4), Sunan Kalijaga (5), Sunan Gunung Jati (6), Sunan Kudus (7), Sunan Muria (8) serta Sunan Derajat (9). Akan tetapi, menurut Kitab Walisana karya Sunan Giri II (Anak Sunan Giri), jumlah mereka bukan sembilan orang, tapi delapan orang. Sumber kuno tersebut memuat ihwal kehidupan para ulama penyebar Islam di Jawa dan kiprah dakwahnya. Nama Walisana yang menjadi nama judul kitab tersebut tidak mengacu bilangan sembilan. Dikatakan juga, selain delapan wali tersebut terdapat ribuan wali lainnya.
Walisanga dalam berbagai tulisan acapkali diidentikan sebagai para sufi pengembang ajaran tasawuf semata. Bahkan, babad-babad yang lahir di masa Mataram banyak melukiskan Walisanga adalah para tokoh keramat dan digdaya. Hingga wafat sekalipun, mereka tetap menjadi sumber berkah.[3]


[1] http://www.blogger-indonesia.com/2011/02/masuknya-islam-ke-tanah-jawa.html,23/11/2011
[2] Syamsuri,pendidikan agama islam sma,jakarta:erlangga,2004,halaman 74
[3] http://armymanshurin.wordpress.com/2011/06/02/dakwah-islam-wali-songo/23/11/2011

3 komentar:

  1. Izin copy paste untuk tugas yaa :) tp saya cantumkan sumber2nya :)

    BalasHapus
  2. Sejarah juga mencatat bahwa raden fatah telah mengkudeta ayah kandungnya Brawijaya V raja majapahit dan di tanah sunda ada sunan gunung jati yg mengkudeta kakeknya Prabu Siliwangi raja pajajaran. Apakah dengan perang dan penaklukan Islam disebarkan di tanah jawa dan tanah sunda?? Karena sejarah Indonesia mencatat itu semua.

    BalasHapus

Terima Kasih Atas Kunjugannya Lain Kali Mampir Lagi Di Blog Ini dan Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Atau Saran Untuk Blog Ini
 
Copyright © 2011 Belajar Yuuuuuuuuk!!! | Design : stkip.Com